MENIKMATI OBYEK WISATA di Temanggung

AIR TERJUN TROCOH

Grojogan yang curam dan air yang tak pernah surut dengan pemandangan alam sekitarnya bernuansa pegunungan bisa membuat wisatawan benar benar segar, sejuk dan nyaman. Di kawasan ini ada 5 terjunan air  dengan suasana yang berbeda. Terletak di desa Tawangsari 7 km dari Kecamatan Wonoboyo atau 36 km dari Kota Temanggung.

Potensi obyek wisata air terjun yang masih perawan dan alami, menjadi saksi bisu kilasan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro ketika membuat strategi gerilya melawan Belanda. Untuk mencapai lokasi ini memang membutuhkan tenaga ekstra sebab harus melewati perbukitan di ladang penduduk. Namun suasana mengesankan dengan hembusan angin bukit.

Air Terjun Lawe di Kecamatan Gemawang

Jatuhnya air dari tebing curam itu bagaikan benang-benang  putih yang dalam bahasa jawa disebut ‘Lawe’.

( tali yang seratnya putih ) membuat namanya lebih cocok menjadi Curug Lawe. Di kawasan ini ada buah-buah alam yang bisa disantap apabila datang tepat pada musimnya.

Panorama alam sekitar Curug Lawe di desa Muncar kecamatan Gemawang kabupaten Temanggung cukup memikat. Perjalanan menuju lokasi cukup lancar dengan jarak tempuh sekitar 26 km dari kota Temanggung.

Goa Lawa di Kecamatan Bejen

Terletak di desa Ngalian Kecamatan Bejen, perbatasan Temanggung – Kendal, pernah dirintis pengembangannya oleh Mahasiswa AKPARI  Semarang.  Ada tradisi pendukung yakni upacara ‘Lampet Dawuhan’  yaitu serangkaian upacara adat sedekah kali dengan ungkapan do’a agar air yang mengairi sawah penduduk di wilayah tersebut dapat tetap abadi mengalir memenuhi kebutuhan pertanian mereka. Ada keunikan dalam tradisi ini yaitu sesepuh desa menyedot air kali dengan mulut kemudian menyemburkannya di areal persawahansetelah melalui kirap sepanjang 200 meter.

Mata Air Jumprit

Udara yang sejuk di mata air Kali Progo dan air yang bening higienis membuat wisatawan kerasan ditemani kera kera jinak bersahabat. Ada tradisi Kungkum di pusat mata air ini dan kemudian berdzikir di Makam Ki Nujum Majapahit. Kegiatan Ziarah ini ramai dilakukan pengunjung pada Malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon.

Rest Area Kledung Pass

Kawasan titik puncak perjalanan Temanggung – Wonosobo dan Dieng dengan pemandangan Panorama Gunung Sumbing dan hamparan tanaman tembakau merupakan kawasan yang sejuk dengan aliran angin lembah yang membuat nuansa menjadi segar. Cocok untuk transit melepas lelah sambil minikmati kopi khas Temanggung di Trading House Kledung Pass. Di sekitar kawasan ada kebun Strawbery dan pusat pembibitan tanaman kentang unggul sehingga Kledung Pass juga sebagai Agro Wisata.

Pendakian Gunung Sumbing

Pendakian Gunung Sumbing merupakan tradisi yang dilakukan para pecinta alam dan petualang wisata pada “Malem Selikuran” tanggal 20 bulan Sya’ban. Pendakian dilakukan lewat dusun Kacepit, desa Pagergunung Kecamatan Bulu dan akan dipandu oleh Pemandu Wisata Gunung dari desa setempat.

Pendakian Gunung Sindoro

Pendakian dilakukan tiap “Malem 1 Sura”yaitu tanggal 30 bulan Zulhijah oleh ribuan pecinta Sindoro Tracking Mounth, lewat desa Katekan Kecamatan Ngadirejo dan juga lewat desa Kledung. Di puncak Sindoro dapat melihat matahari terbit dan apabila mendaki pada siang hari maka akan melihat tenggelamnya matahari serta Danau Ajaib yang disebut sebagai ‘Pasar Setan’.

Sebagai Base Camp dan tempat pendaftaran adalah di desa Kledung Kecamatan Kledung. Mereka akan didata identitasnya dan dicek perlengkapannya oleh petugas gabungan dari tim SAR, Polisi, Kelompok Pecinta Alam, Pramuka dan Pemuda Desa, berkaitan dengan upaya pengamanan serta kelengkapan yang harus dibawa saat mendaki.

Gunung Sindoro berketinggian 3.151 meter, puncaknya merupakan hamparan pasir bekas magma yang membeku. Dari puncak itulah para pendaki akan menikmati suasana yang indah saat terbitnya matahari pagi pukul 05.00 WIB. Berdiri diatas puncak Sindoro bagaikan berdiri diatas awan, lebih-lebih bila cuaca jernih pendaki dapat merasakan indahnya alam puncak gunung yang ditumbuhi bunga-bunga  kering. Begitu indahnya sang Edelweis, namun siapapun tak boleh membawa pulang, cukup bisa dipandang saja dipuncak Sindoro.

Hutan Walitis

Pohon Walitis merupakan satu – satunya pohon terbesar di Lereng Gunung Sumbing dan Sindoro yang terletak di desa Jetis Kecamatan selopampang. Tinggi pohon ± 30 meter, lingkar batangnya ± 7,5 meter. Untuk memeluk  pohon ini diperlukan enam (6) orang dewasa yang saling bertautan merentangkan kedua tangannya. Menurut masyarakat sekitar, Pohon Walitis berasal dari sebuah tongkat salah satu wali atau kyai Mangkukuhan yang ditancapkan di tanah. Kawasan Walitis memiliki pemandangan alam sekitar yang indah dan udara pegunungan yang masih segar alami. Tidak kalah menariknya disana tumbuh juga rumpun tumbuhan yang bernama hutan Rosomolo yang tidak terbakar kendati di lingkungannya sering terjadi kebakaran hutan. Untuk menjangkau rumpun pohon Rosomolo seluas sekitar 1,5 hektar kita harus mendaki dengan jarak sekitar 1,5 km.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.