TRADISI PENDAKIAN GUNUNG SUMBING

MENDAKI  GUNUNG  SUMBING UNTUK “NGALAB BERKAH”

Mendaki gunung merupakan wisata petualangan yang menarik. Penuh tantangan saat mendaki bukit-bukit terjal, namun juga penuh keindahan alam puncak dengan panorama indah saat terbitnya matahari pagi. Sebagian dari mereka bermaksud ziarah ke makam Ki Ageng Makukuhan di Puncak Sumbing, yang diyakini sebagai orang pertama singgah di Kedu dan menanam tembakau.

Malem Selikuran adalah tradisi yang secara rutin dilaksanakan pada hari ke 20 bulam Ramadhan atau masyarakat Jawa menyebutnya dengan istilah Malem Selikuran. Pada acara ini para pecinta alam utamanya generasi muda pria dan wanita beramai-ramai naik ke Puncak Gunung Sumbing melewati Pos Pendakian Dusun Kacepit, Desa Pagergunung Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Kegiatan ini dipantau oleh Satuan Pengamanan gabungan yang terdiri dari Kepolisian, Tim SAR (Search And Rescue), RAPI, SHC Temanggung ( Sumbing Hiking Club ) dan Pemuda Desa setempat yang sudah terlatih.

Prosesi pendakian Gunung Sumbing diawali dengan acara ritual berupa Selamatan ( Kenduri ) di Masjid Desa Setempat pada jam 18.00 WIB, dipimpin oleh Tokoh Masyarakat setempat. Pada saat kenduri tersebut warga masyarakat masing-masing membawa nasi tumpeng lengkap dengan ingkung ayam jago, atau diseyogyakan ayam jago Putih Mulus. Acara ini dimaksud untuk memanjatkan doa / mendoakan arwah Ki Ageng Makukuhan yang disemayamkan di Puncak Sumbing serta para Leluhur Desa, dengan maksud untuk mendapatkan berkah berupa keselamatan, rejeki dan kesuksesan dibidang usaha pertaniannya.

Para pendaki sudah mulai berdatangan sejak sore hari. Mereka transit di Terminal ( Pos Terakhir ). Kemudian mulai mendaki pada pukul 20.00 WIB. Sampai ke puncak Sumbing membutuhkan waktu 3 sampai 4 jam start dari Pos Terakhir. Sedangkan dari Pos Dusun Kacepit sampai Pos Terakhir kini jalannya sudah diaspal sehingga kendaraan roda dua maupun mobil yang sehat mesinnya bisa naik ke Pos Terakhir. Tujuan para pendaki setelah sampai di puncak adalah berziarah ke Makam Ki Ageng Makukuhan, ingin menikmati indahnya Matahari Terbit dan atau sekedar berpetualang bersama teman-temannya.

Pemandangan di Puncak Sumbing cukup mengesankan. Pada ketinggian sekitar 3.200 meter dpl ini para pendaki akan melewati  Watu Malang dan  bisa  beristirahat  sejenak.   Setelah  itu pendaki memasuki

kawasan Segara Wedhi, yaitu kawasan luas bekas kubah magma yang menyerupai gurun pasir. Dilanjutkan pendakian ke Bledug Kawah Hijau dan tidak jauh dari itu sampailah ke Makam Ki Ageng Makukuhan yang ditandai dengan lurug dari kain putih. Di makam ini peziarah memanjatkan doa atau mengucapkan nadzar dan ada kepercayaan melempar uang recehan dengan harapan akan mendapatkan rejeki berlimpah. Ada pula yang membawa Bunga Mawar dan membakar kemenyan sebagai media penyampaian doa.

MENDAKI  GUNUNG  SUMBING UNTUK “NGALAB BERKAH”

Mendaki gunung merupakan wisata petualangan yang menarik. Penuh tantangan saat mendaki bukit-bukit terjal, namun juga penuh keindahan alam puncak dengan panorama indah saat terbitnya matahari pagi. Sebagian dari mereka bermaksud ziarah ke makam Ki Ageng Makukuhan di Puncak Sumbing, yang diyakini sebagai orang pertama singgah di Kedu dan menanam tembakau.

Malem Selikuran adalah tradisi yang secara rutin dilaksanakan pada hari ke 20 bulam Ramadhan atau masyarakat Jawa menyebutnya dengan istilah Malem Selikuran. Pada acara ini para pecinta alam utamanya generasi muda pria dan wanita beramai-ramai naik ke Puncak Gunung Sumbing melewati Pos Pendakian Dusun Kacepit, Desa Pagergunung Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Kegiatan ini dipantau oleh Satuan Pengamanan gabungan yang terdiri dari Kepolisian, Tim SAR (Search And Rescue), RAPI, SHC Temanggung ( Sumbing Hiking Club ) dan Pemuda Desa setempat yang sudah terlatih.

Prosesi pendakian Gunung Sumbing diawali dengan acara ritual berupa Selamatan ( Kenduri ) di Masjid Desa Setempat pada jam 18.00 WIB, dipimpin oleh Tokoh Masyarakat setempat. Pada saat kenduri tersebut warga masyarakat masing-masing membawa nasi tumpeng lengkap dengan ingkung ayam jago, atau diseyogyakan ayam jago Putih Mulus. Acara ini dimaksud untuk memanjatkan doa / mendoakan arwah Ki Ageng Makukuhan yang disemayamkan di Puncak Sumbing serta para Leluhur Desa, dengan maksud untuk mendapatkan berkah berupa keselamatan, rejeki dan kesuksesan dibidang usaha pertaniannya.

Para pendaki sudah mulai berdatangan sejak sore hari. Mereka transit di Terminal ( Pos Terakhir ). Kemudian mulai mendaki pada pukul 20.00 WIB. Sampai ke puncak Sumbing membutuhkan waktu 3 sampai 4 jam start dari Pos Terakhir. Sedangkan dari Pos Dusun Kacepit sampai Pos Terakhir kini jalannya sudah diaspal sehingga kendaraan roda dua maupun mobil yang sehat mesinnya bisa naik ke Pos Terakhir. Tujuan para pendaki setelah sampai di puncak adalah berziarah ke Makam Ki Ageng Makukuhan, ingin menikmati indahnya Matahari Terbit dan atau sekedar berpetualang bersama teman-temannya.

Pemandangan di Puncak Sumbing cukup mengesankan. Pada ketinggian sekitar 3.200 meter dpl ini para pendaki akan melewati  Watu Malang dan  bisa  beristirahat  sejenak.   Setelah  itu pendaki memasuki

kawasan Segara Wedhi, yaitu kawasan luas bekas kubah magma yang menyerupai gurun pasir. Dilanjutkan pendakian ke Bledug Kawah Hijau dan tidak jauh dari itu sampailah ke Makam Ki Ageng Makukuhan yang ditandai dengan lurug dari kain putih. Di makam ini peziarah memanjatkan doa atau mengucapkan nadzar dan ada kepercayaan melempar uang recehan dengan harapan akan mendapatkan rejeki berlimpah. Ada pula yang membawa Bunga Mawar dan membakar kemenyan sebagai media penyampaian doa.

MEMELUK SAKA GURU MASJID UNTUK MENGUKUR KESUKSESAN

Tradisi unik telah dilakukan secara turun temurun. Masyarakat menyebutnya dengan istilah Malam Jum’at Pahingan.  Yaitu tradisi berdzikir di Masjid desa Menggoro kecamatan Tembarak kurang lebih 7 km arah Selatan kota Temanggung. Banyak pengunjung dari berbagai kota seperti Pekalongan, Semarang, Solo, Wonosobo, Purwokerto, dan Magelang dengan berbagai tujuan. Umumnya mereka  membaca ayat suci Al Qur’an, dzikir, membaca doa-doa, menjalankan nadzar, ada pula yang sekedar ingin mengadu nasib dengan memeluk salah satu tiang masjid yang dikenal dengan Soko Guru  karena konon bisa mengetahui rejekinya jauh atau dekat.

7 Tanggapan

  1. Semakin hari semakin meningkat ya..perbaharui terus..

  2. Konon kabarnya Ki Ageng Makukuhan berasal dari Pura Mangkunegaran Surokarto. Mungkin Ki Ageng Mekukuhan orang pertama yang menanam tembakau. Tentunya ini bersamaan dengan kehadiran VOC yang memiliki kepentingan dengan tembakau. Namun perlu diketahui bahwa disebelah timur Kedu, ada makam Patih Sindurejo (desa Jumo). Patih Sindurejo adalah patih Pura Pakubuono, yang aktif menjadi duta dalam perjanjian Salatiga (membagi Solo menjadi 3 kerajaan, Pakubuono, Mangkunegoro, Hamangku Buwono). Setelah selesai tugasnya Patih Sindurejo pulang ke leluhurnya di desa Jumo. Artinya desa Jumo telah ada lebih tua dari Kedu.

    • Trimakasih, kalau ada naskah yang lebih lengkap tolong bagi-bagi ya dikirim lewat email ntar jadi pelengkap posting tentang Ki ageng Makukuhan dan gunung sumbing di waktu mendatang

  3. saya mendapat pengakuan dari cucu keturunan patih sindurejo yang berada di wilayah kaloran temanggung dan mereka mengatakan bahwa patih sindurejo dimakamkan di desa batur kaloran, dan bahkan ada perkumpulan dari keluarga besar keturunan patuh sindurejo di kaloran, mohon di jelaskan yang sebenarnya. karena dari mereka saya mendapatkan kabar dan nampaknya suatu kebenaran karena keluarga besar patih sindurejo sekarang sudah di keturunan yang ke- 6 sampai sekarang.

    • Itu mungkin benar ada silsilah sindurejo yang sekarang tinggal di kaloran dan masih banyak lagi kerabatnya yang belum bisa sambung sedulur sedulurnya….kalau sempat ditulis saja ya n dikirim ke email ini biar jadi pelengkap cerita berikutnya

  4. Apakah ini patih sindurejo yang menikah dengan putri Amangkurat 1 yaitu Raden Ayu Pucang? Bila iya saya mohon agar dapat dishare nama-nama keturunannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: